Pulau Bali, yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata utama Indonesia, belakangan ini terlihat lebih lengang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026. Jalanan di kawasan populer seperti Kuta, Legian, Seminyak, hingga Ubud yang biasanya macet, kini relatif sepi. Sopir pariwisata mengeluhkan jarangnya orderan, dan beberapa hotel melaporkan okupansi rendah. Meski data resmi menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) hingga pertengahan Desember mencapai sekitar 6,7 juta orang—naik dari 6,3 juta pada 2024—kenyataan di lapangan terasa berbeda.
Apa yang menyebabkan fenomena ini? Berikut beberapa faktor utama berdasarkan laporan terkini:
1. Cuaca Ekstrem dan Musim Hujan
Desember 2025 menjadi periode musim hujan yang intens di Bali, dipicu bibit siklon tropis 93S di Samudera Hindia. BMKG memprediksi hujan lebat hingga akhir bulan, menyebabkan banjir, longsor, dan genangan di berbagai wilayah, termasuk kawasan wisata seperti Ubud, Kuta, dan Seminyak. Banjir baru-baru ini merendam jalan utama dan menyebabkan kemacetan serta evakuasi. Wisatawan cenderung membatasi aktivitas outdoor, memilih staycation di hotel atau bahkan membatalkan rencana. “Hujannya gila, sampai banjir,” keluh salah satu pengelola destinasi.
2. Persaingan dengan Destinasi Lain, Terutama Thailand
Banyak wisatawan, khususnya domestik dan regional, beralih ke Thailand karena harga lebih murah, pelayanan lebih baik, dan promosi agresif. Tiket pesawat Jakarta-Bangkok sering lebih kompetitif dibanding Jakarta-Denpasar. Event besar seperti SEA Games di Thailand juga menarik perhatian. Driver pariwisata Bali menyebut penerbangan lebih ramai ke Thailand, membuat Bali kehilangan pangsa pasar.
3. Isu Infrastruktur, Sampah, dan Kemacetan
Berita negatif tentang sampah plastik di pantai, kemacetan parah, serta infrastruktur yang belum optimal terus beredar. Panduan perjalanan seperti Fodor’s bahkan memasukkan Bali dalam “No List 2025” karena overtourism yang merusak lingkungan dan budaya. Keluhan wisatawan domestik tentang perlakuan tidak ramah—seperti diusir dari pantai atau dilayani lebih lambat—juga viral di media sosial, membuat sebagian ragu berkunjung.
4. Akomodasi Ilegal dan Pergeseran Pola Menginap
Kunjungan wisman secara keseluruhan naik, tapi okupansi hotel resmi turun dari 66% menjadi 58%. Banyak wisatawan memilih vila ilegal, Airbnb, atau akomodasi non-pajak yang lebih murah dan fleksibel. Ini membuat kawasan wisata terlihat sepi meski bandara ramai.
5. Faktor Ekonomi Global dan Pola Booking Last Minute
Ekonomi global yang melambat membuat wisatawan lebih hemat. Banyak yang booking mendadak mulai 20 Desember, sehingga awal bulan terasa sepi. PHRI Bali optimistis lonjakan akan terjadi akhir Desember hingga awal Januari.
Meski terlihat sepi saat ini, para pelaku pariwisata tetap optimistis. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan data kunjungan tetap positif, dan puncak Nataru diprediksi ramai. Namun, fenomena ini menjadi pengingat bagi Bali untuk memperbaiki infrastruktur, mengelola limbah, dan mempromosikan pariwisata berkualitas. Bagi calon wisatawan, ini bisa jadi kesempatan menikmati Bali yang lebih tenang—tapi tetap waspada cuaca!